Dua Tren yang Bertolak Belakang, Tapi Saling Terhubung
Coba lo bayangin: di satu sisi, ada orang yang melepas semua gadget dan berjalan dalam keheningan total. Nggak ada musik, nggak ada podcast, nggak ada notifikasi. Cuma suara langkah kaki dan angin.
Di sisi lain, ada orang yang justru sibuk merekam kesendirian mereka. Mereka bikin konten tentang betapa bahagianya hidup tanpa teman, tanpa pacar, tanpa anak. Mereka pamerin apartment yang rapi, makan malam sendirian, dan bilang, “Ini Friday night gue dan gue happy.”
Dua tren ini keliatan beda banget kan? Yang satu silent walking—jalan diam tanpa distraksi. Yang satu loneliness influencer—orang yang justru viral karena merayakan kesendirian.
Tapi sebenernya, dua-duanya adalah respons dari masalah yang sama: overstimulasi dan tekanan sosial di era digital.
Pertanyaannya: kenapa kita makin tertarik sama kesendirian? Dan apakah dua tren ini sebenernya saling terhubung?
Silent Walking: Melawan Overstimulasi dengan Keheningan
Apa itu silent walking?
Gampangnya, silent walking adalah aktivitas berjalan kaki tanpa distraksi digital. Nggak pake HP, nggak pake earphone, nggak dengerin podcast atau musik . Tujuannya? Fokus penuh sama lingkungan sekitar, pernapasan, dan pikiran yang mengalir alami.
Tren ini mulai populer di kalangan anak muda yang capek sama distraksi digital. Mereka sadar bahwa hidup mereka udah terlalu penuh sama notifikasi, informasi, dan tuntutan buat selalu “on” . Di tengah kebiasaan yang makin lekat sama gawai, silent walking jadi cara sederhana buat “menekan tombol jeda” .
Kenapa tren ini hits?
Menurut penelitian yang dipublikasi di Scientific Reports (2024), mindful walking tanpa gangguan digital lebih efektif meningkatkan fleksibilitas kognitif dan mengurangi brain fog dibandingkan jalan sambil dengerin musik . Penelitian lain di Environmental Science & Technology (2019) juga nunjukin bahwa 20 menit jalan di alam tanpa distraksi bisa signifikan nurunin kadar kortisol—hormon stres .
“Silent walking is as much about the mind as the body,” kata Vaibhav Daga, Kepala Sports Science & Rehabilitation di Rumah Sakit Kokilaben Dhirubhai Ambani, Mumbai. “Dengan menghilangkan distraksi digital, lo nurunin kadar kortisol dan ngasih otak masuk ke kondisi ‘soft fascination,’ yang sangat restoratif buat kesehatan mental” .
Manfaatnya: dari Fisik sampai Mental
- Mengurangi stres: Berjalan tanpa gangguan bikin pikiran lebih tenang
- Meningkatkan kesadaran: Jadi lebih peka sama suara alam dan langkah sendiri
- Memicu kreativitas: Banyak yang ngaku dapet ide-ide kreatif saat silent walking
- Detoks digital: Istirahat dari paparan layar yang berlebihan
Cara mulai silent walking
- Pilih lokasi tenang: Taman, hutan kota, atau jalan kecil yang sepi
- Simpan semua gadget: HP di saku atau dimatiin
- Fokus sama pernapasan: Rasakan udara masuk dan keluar
- Nikmati suara sekitar: Biarkan pikiran mengalir tanpa dievaluasi
Loneliness Influencer: Merayakan Kesendirian di Depan Publik
Apa itu loneliness influencer?
Ini adalah kebalikan dari silent walking—atau mungkin bukan kebalikan, tapi versi yang lebih… publik.
Loneliness influencer adalah kreator konten yang secara terbuka merayakan kehidupan lajang, tanpa anak, tanpa lingkaran pertemanan yang besar . Mereka membagikan aktivitas harian yang dilakukan seorang diri—masak, bersih-bersih, makan malam, jalan-jalan—tanpa banyak interaksi sosial .
Salah satu yang paling terkenal adalah Lana Isa, 24 tahun dari Toronto. Dia punya hampir 200.000 pengikut di Instagram dan jutaan tayangan di TikTok . Videonya biasanya berisi dia berjalan di apartemennya yang rapi, masak pizza, minum Diet Coke dari gelas anggur, atau nonton hujan .
Captionnya khas: “POV you’re single, have no friends, live alone and won’t be having kids so this is your Friday night” .
Kreator lain kayak Ella Glows juga populer. Salah satu videonya—tentang kenapa dia lebih milih kesendirian—dapet lebih dari 300 ribu likes . Dia bilang, “Ketika sendirian, saya benar-benar bisa rileks. Saya tidak perlu menyenangkan siapa pun selain diri sendiri” .
Kenapa tren ini viral?
Menurut pakar budaya Chad Teixeira, tren ini muncul karena makna kesendirian berubah di mata generasi masa kini. Dulu, status lajang atau menghabiskan malam sendirian sering dianggap sebagai sesuatu yang harus dijelaskan. Sekarang, itu jadi pilihan hidup yang dipilih secara sadar .
“Memilih tidak berkencan atau menghabiskan malam tanpa teman bukan lagi dianggap kesepian, itu dipandang sebagai bentuk kedaulatan atas hidup sendiri,” ujar Teixeira .
Tren ini juga berkaitan dengan meningkatnya kelelahan mental, tekanan ekonomi, dan rasa jenuh atas tuntutan kehidupan sosial. Ketenangan, privasi, dan waktu untuk diri sendiri jadi sesuatu yang dirasa sangat bernilai .
Tapi ada paradoksnya
Yang bikin lucu, tren ini terjadi di platform yang dirancang buat koneksi . Orang-orang membangun komunitas besar—ratusan ribu pengikut—dengan cara membicarakan betapa mereka sendirian . Mereka terhubung dengan ribuan orang asing di dunia maya soal kecintaan mereka buat nggak terhubung dengan siapa pun di dunia nyata .
Lana Isa sendiri ngaku kadang “pretending like you guys are my friends and we’re on facetime” . Dan banyak komentator yang nganggap diri mereka sebagai teman Lana. Mereka ngasih semangat, rekomendasi buku, dan pujian . Salah satu komentar: “Omg I loved this long video! It felt like we were all just hanging out together!” .
Dua Wajah Individualisme yang Saling Terhubung
Persamaan yang nggak kelihatan
1. Sama-sama respons atas overstimulasi digital
Silent walking adalah cara buat melepas diri dari distraksi digital. Loneliness influencer adalah cara buat mengelola narasi tentang kesendirian di tengah dunia yang serba terhubung. Dua-duanya muncul karena generasi kita capek.
2. Sama-sama tentang mencari kendali
Di dunia yang penuh tekanan—pekerjaan, ekonomi, tuntutan sosial—kesendirian jadi sesuatu yang bisa kita kendalikan. Kita bisa pilih buat jalan tanpa HP. Kita bisa pilih buat nggak punya teman. Ini tentang “kedaulatan atas hidup sendiri” .
3. Sama-sama paradox
Pelaku silent walking sebenarnya merekam pengalaman mereka? Nggak. Tapi mereka membagikan pengalaman itu di media sosial. Ini paradox: lo jalan sendirian tanpa distraksi, tapi lo ceritain ke orang lain .
Pelaku loneliness influencer juga paradox: mereka bilang mereka sendirian dan bahagia, tapi mereka bikin konten di depan ratusan ribu orang. “How introverted can a person be while also making public-facing content about their private lives?” tanya sebuah artikel di New York Magazine .
Lana Isa: Antara Kesendirian dan Kerinduan
Yang bikin tren ini menarik adalah cerita di baliknya.
Lana Isa mulai bikin konten setelah pengalaman hidup yang keras. Dia tumbuh di keluarga miskin, sering di-bully di sekolah, dan pernah dikhianati sama dua orang yang dia percaya—temen dekat dan mantan pacar yang ternyata selingkuh di belakangnya .
Dia pindah ke seberang negara setelah putus cinta, dan persahabatannya perlahan memudar. Musim panas lalu, dia hampir sepenuhnya terisolasi. “It was probably the most alone time I’ve ever spent in my entire life,” katanya. “My only texts were with my mom, my sister, and my phone company letting me know that my bill is ready” .
Tapi ketika diwawancarai, Lana ngaku dia sebenarnya pengen punya teman dekat. “I’ve never really had that, so I can’t really tell you if that would be better than what I currently do,” katanya. “But the concept of it sounds fun” .
Ini menunjukkan bahwa kesendirian yang dia tampilkan bukan pilihan murni, tapi lebih ke strategi bertahan . Dan ini yang bikin kontennya relatable buat banyak orang.
Dua tipe komentator
Menurut The Atlantic, komentator konten loneliness influencer terbagi jadi dua tipe :
- Mereka yang juga “sendirian” dan nyari validasi. Mereka appreciate panduan Lana dan lihat gaya hidup mereka terwakili.
- Mereka yang kangen kesendirian—yang capek sama teman sekamar, keluarga yang menuntut, atau kehidupan yang sibuk. Salah satu komentar dari ibu rumah tangga: “I love my husband and the sweet life we’re doing together, but I would have wanted to spend time alone like you’re doing right now so I wasn’t still trying to figure out who I am at 42” .
Ini yang bikin tren ini rumit. Kesendirian bisa jadi pelarian bagi yang kelebihan stimulasi, tapi juga realitas bagi yang kurang koneksi.
Data: Generasi Kita Emang Lagi Kesepian
- Survei American Psychological Association (2025) menunjukkan sekitar setengah dari orang dewasa AS merasa terisolasi “sering” atau “kadang-kadang”
- Studi di Psychological Bulletin (2021) menunjukkan tingkat kesepian di kalangan dewasa muda meningkat setiap tahun antara 1976 dan 2019
- Laporan OECD (2025) mengonfirmasi bahwa dewasa muda usia 16-24 tahun paling mungkin melaporkan merasa kesepian “sebagian besar atau sepanjang waktu,” bahkan lebih dari orang berusia 65 tahun
Tapi di saat yang sama, silent walking dan loneliness influencer jadi tren yang viral. Ini menunjukkan bahwa generasi kita sadar akan kesepian, tapi juga berusaha merayakannya sebagai bentuk kedaulatan.
Antara Realita dan Performa
Apakah ini asli atau cuma konten?
Salah satu pertanyaan terbesar: seberapa asli sih konten ini?
Beberapa orang meragukan. Di forum Reddit r/NYCInfluencerSnark, ada yang nge-post: “Paulina Cee can’t be real, can she? It all just looks so fake” . Komentator menuduh kreator ini meniru Lana Isa atau bahkan cuma akun marketing.
Lana Isa sendiri sering ditanya apakah dia melebih-lebihkan soal “nggak punya teman.” Dia ngeyel: dia emang nggak punya . Tapi dia juga ngaku dia cuma dapet sedikit uang dari kontennya, karena program TikTok Creator Rewards nggak tersedia di Kanada .
Bahaya meromantisasi isolasi
Tapi ada kekhawatiran juga. Sebuah opini di Irish Times bilang, loneliness influencer mungkin mengurangi stigma terhadap ketiadaan teman, tapi mereka juga menormalkan sesuatu yang seharusnya nggak dinormalisasi .
“Isolasi sosial yang tidak diinginkan telah dibandingkan dengan merokok 15 batang sehari dalam hal efeknya pada kesehatan,” tulis kolumnis tersebut .
Memang ada perbedaan antara memilih kesendirian dan terpaksa sendirian . Lana Isa bilang dia memilih—tapi dia juga ngaku pengen punya teman. Ini menunjukkan bahwa “pilihan” itu mungkin lebih karena trauma dan ketakutan, bukan karena preferensi asli .
Tips Praktis: Menemukan Keseimbangan
- Coba silent walking: Mulai dari 10-15 menit. Nggak usah pake target apa pun. Cuma jalan dan nikmati prosesnya .
- Tanya diri lo: “Apakah gue memilih kesendirian atau terpaksa sendirian?” Jawaban jujur bisa bantu lo tau apakah ini sehat atau nggak.
- Batasi paparan konten loneliness influencer: Kalau nonton konten ini bikin lo makin terisolasi, bukan makin tenang, mungkin ini nggak sehat buat lo .
- Bangun koneksi nyata: Seperti yang dilakukan influencer Devon Noehring—dia bergabung dengan liga pickleball dan sekarang punya sahabat. “You have to be scared for a little bit, but it’s worth it” .
- Jangan romantisasi isolasi: Menikmati waktu sendiri itu penting. Tapi total isolasi bukanlah hal yang harus dirayakan .
Kesalahan Umum yang Sering Dilakuin
- Nganggap semua kesendirian itu sehat: Ada perbedaan antara solitude (kesendirian yang dipilih) dan loneliness (kesepian yang dipaksakan) .
- Terlalu banyak nonton konten isolation: Ini bisa bikin lo makin nyaman dengan isolasi dan kehilangan motivasi buat cari koneksi nyata .
- Lupa kalo manusia butuh orang lain: Bahkan introvert pun butuh interaksi sosial. Nggak ada yang bisa hidup sepenuhnya sendirian tanpa dampak negatif .
- Menganggap silent walking sebagai solusi semua masalah: Ini alat bantu, bukan obat. Kalau lo lagi depresi atau kesepian berat, cari bantuan profesional .
Penutup: Menemukan Jalan Tengah di Era Overstimulasi
Silent walking dan loneliness influencer adalah dua wajah dari fenomena yang sama: generasi kita lagi berusaha keras buat bertahan di tengah dunia yang terlalu bising dan menuntut.
Silent walking adalah cara buat kabur dari kebisingan. Loneliness influencer adalah cara buat mengelola narasi tentang kesendirian. Dua-duanya lahir dari kebutuhan yang sama: kendali atas hidup di saat semuanya terasa di luar kendali.
Tapi inget, ada perbedaan antara memilih kesendirian dan terjebak dalam isolasi. Menikmati waktu sendiri adalah hal yang sehat. Tapi meromantisasi isolasi total bisa berbahaya.
Seperti yang dibilang sama salah satu komentator di video Lana Isa: “I’ve been a happy loner all my life and I watch vlogs while I eat meals for a little ‘company’ lol” . Ini adalah pengakuan yang jujur: kita butuh “teman” bahkan saat kita sendirian.
Jadi, mau lo jalan tanpa HP atau nonton konten orang yang bangga sendirian, yang penting: jangan sampai lo kehilangan kemampuan buat terhubung dengan orang lain di dunia nyata. Karena pada akhirnya, manusia adalah makhluk sosial—dan itu nggak akan pernah berubah.
Yuk diskusi! Lo lebih suka silent walking atau malah sering nonton konten loneliness influencer? Atau mungkin lo punya cara sendiri buat menghadapi overstimulasi? Share di kolom komentar!