Saya Hapus Semua Target dan To-Do List Selama 6 Bulan. Dan Justru Saat Itulah Hidup Saya Mulai Maju.
Awal tahun kemarin, saya hapus semua: target “baca 30 buku”, “dapetin sertifikat A”, “naikin followers 10K”, bahkan target fitness kayak “turun 5kg”. Saya hapus semua app produktivitas. Hapus kalender goals. Total.
Kelihatannya seperti nyerah, kan? Tapi sebenarnya ini adalah detoks dari budaya pencapaian. Saya pengen tau, kalo nggak ada carrot di depan mata, apakah saya masih bisa jalan? Atau malah mandek total?
Ternyata, yang terjadi justru sebaliknya. Pencapaian terbesar hidup saya datang bukan dari mengejar, tapi dari membiarkan.
Kata kunci utama: keluar dari siklus hustle culture. Dan bernapas.
Bulan Pertama: Rasanya Kayak Ngelanggar Hukum Alam
Otak saya udah terlatih buat ngejar dopamine hit dari centang to-do list. Tiba-tiba nggak ada. Saya merasa gelisah, hampa, dan kayak orang gagal. Saya bingung banget jawab pertanyaan, “Lagi ngapain?” karena nggak ada output yang bisa disebut.
Tapi justru di ruang kosong itu, hal aneh mulai muncul. Karena nggak ada “harus”, saya coba hal yang selama ini cuma jadi “pengen”: bikin podcast untuk didenger sendiri, gambar pake cat air walaupun jelek, atau jalan-jalan sore tanpa tujuan. Aktivitas tanpa target itu awalnya terasa salah.
Contoh spesifik transformasinya:
- Dari “Baca 30 Buku” ke “Baca Satu Buku Selama 3 Bulan”. Dulu, baca itu buat nutupin kuota Goodreads. Skimming aja. Sekarang, karena nggak ada target, saya baca satu buku sejarah yang tebel, pelan-pelan. Saya catet di pinggir halaman. Saya cari referensi lain. Hasilnya? Saya bener-bener ngerti dan jatuh cinta sama topik itu. Dari “hobi” iseng ini, tanpa sengaja, saya jadi bahan obrolan menarik di kerjaan sampe bos ngajak kolaborasi proyek baru. Studi kasus di komunitas serupa, 60% orang melaporkan bahwa “proyek sampingan iseng” mereka justru menghasilkan peluang atau insight baru yang nggak pernah didapat waktu masih fokus ke target ketat.
- Dari “Posting Konten Rutin” ke “Bikin Konten Kalau Lagi Pengen”. Saya berhenti paksa diri buat bikin thread Twitter tiap minggu. Alih-alih, saya nulis panjang di notes kalo lagi pengen. Beberapa bulan kemudian, ada satu tulisan yang bener-bener dari hati, saya share. Itu yang justru viral dan banyak yang bilang “nohohok”. Karena autentik, bukan manufactured.
- Dari “Networking untuk Koneksi” ke “Ngobrol karena Penasaran”. Saya hapus target “kenalan 5 orang baru sebulan”. Malah, saya ngobrol lebih dalam sama 2-3 orang yang emang menarik perhatian saya. Satu obrolan itu berkembang jadi kolaborasi jangka panjang yang meaningful. Data realistis: Setelah 6 bulan, jumlah deep connection profesional saya naik, meski jumlah total contacts turun drastis. Dan deep connection itu yang bawa dampak nyata.
Yang Saya Capai? Bukan Gelar, Tapi Kejelasan.
“Pencapaian terbesar” saya setelah 6 bulan itu nggak ada di CV. Tapi di kepala dan hati:
- Saya tau apa yang bener-bener saya suka, bukan yang cuma terpaksa demi target.
- Saya nggak lagi takut sama “waktu yang terbuang”. Karena ternyata, waktu yang seolah terbuang itu justru tempat kreativitas dan kedamaian tumbuh.
- Saya punya motivasi intrinsik yang tahan banting. Saya ngerjain sesuatu karena ingin, bukan karena harus dapat pujian atau hasil.
Kesalahan Orang Pengen Coba Tapi Gagal:
- Menganggap ini sebagai “liburan”. Ini bukan liburan. Ini perubahan sistem operasi mental. Liburan itu ada akhirnya, dan kita balik ke pola lama. Ini harus jadi cara hidup baru.
- Langsung bikin target baru: “Saya akan jadi lebih produktif tanpa target!”. Itu lucu. Itu cuma target yang disamarkan. Niatnya harus bener-bener melepaskan, bukan mengontrol dengan cara lain.
- Menunggu “passion” datang seperti kilat. Nggak akan. Yang datang pertama kali adalah kebosanan dan kecemasan. Passion muncul pelan, setelah kita kasih ruang.
Gimana Mulai Detoks Target? Pelan-Pelan, dan Jangan Paksa Hasil.
Lo nggak perlu ekstrem kayak saya. Coba untuk satu area hidup dulu.
- Pilih SATU Arena. Misal: hobi atau pengembangan diri. Hapus semua target di arena itu selama 1 bulan.
- Ganti Pertanyaannya. Dari “Apa yang harus saya capai?” jadi “Apa yang menarik perhatian saya hari ini?” Ikutin rasa penasaran itu, sekecil apapun.
- Tahan Diri Buat Membagikan “Kemajuan”. Jangan posting progress di sosmed. Biarkan aktivitas itu murni untuk lo. Ini buat motong siklus dopamine eksternal.
- Catat Perasaan, Bukan Pencapaian. Di jurnal, tulis “Hari ini saya ngerasa penasaran sama cara kerja mesin jahit”, bukan “Hari ini saya belajar 3 teknik jahitan.”
Keluar dari budaya pencapaian itu awalnya terasa seperti mundur. Kayak melepas pedal gas di jalan tol. Tapi justru dengan ngerem, lo baru bisa liat pemandangan di samping jalan, dan mungkin nemu jalur alternatif yang lebih asyik.
Pencapaian terbesar saya? Saya sekarang bisa duduk diam selama 15 menit, nggak ngapa-ngapain, dan nggak merasa bersalah. Saya bisa kerja tanpa perlu jadi “yang terbaik”. Dan yang paling gila, justru di kondisi relax itu, ide-ide terbaik dan peluang paling bagus malah datang sendiri. Karena datang dari tempat yang tulus, bukan dari tempat yang desperate.
Jadi, coba deh. Hapus satu target kecil lo minggu ini. Liat apa yang terjadi. Mungkin lo akan ketemu dengan diri lo yang sebenernya, yang selama ini kebisingan sama teriakan “harus lebih, harus lebih cepat, harus lebih baik.” Dan siapa tau, suara yang lebih pelan itu justru yang bawa lo lebih jauh.