Posted in

Generasi ‘Lazy Girl Jobs’: Mengapa Gen Z Lebih Pilih Kerja Santai Gaji 15 Juta daripada Kerja Keras Naik Jabatan

Generasi 'Lazy Girl Jobs': Mengapa Gen Z Lebih Pilih Kerja Santai Gaji 15 Juta daripada Kerja Keras Naik Jabatan

Lo pernah nggak sih ngerasa capek duluan sebelum mulai kerja?

Kayak, lo liat postingan LinkedIn orang-orang yang pamer promosi, lembur sampe malem, “rise and grind” dari pagi buta—dan lo cuma bisa mikir: Ya ampun, capek deh liatnya.

Gue juga gitu. Sampai akhirnya gue nemu istilah yang lagi viral di TikTok: Lazy Girl Jobs.

Bukan kerjaan malas-malasan. Tapi kerjaan yang… santai. Nggak perlu lembur. Nggak perlu bawa kerjaan ke rumah. Nggak perlu mati-matian naik jabatan. Tapi gajinya? 15 juta sebulan. Atas.

Pertama baca, gue mikir: “Ah, clickbait. Mana ada kerja santai gaji segede itu.”

Tapi setelah gue dalemin, ternyata ini beneran fenomena. Dan yang lebih seru: ini pilihan sadar. Bukan karena mereka nggak bisa kerja keras—tapi karena mereka milih nggak kerja keras.

Gue ngobrol sama 4 orang. Tiga Gen Z yang lagi nyaman di lazy girl jobs mereka. Satu milenial—workaholic beneran—yang justru ngerasa… iri.

Hasilnya? Let’s just say, gue jadi ngevaluasi hidup gue sendiri.


Kasus #1: Dinda (24, Social Media Manager) — “Gue Kerja 4 Jam Sehari, Gaji 16 Juta”

Dinda lulusan komunikasi 2022. Sekarang kerja sebagai social media manager di sebuah startup e-commerce. Tapi bukan manager beneran—lebih tepatnya “one-woman team” yang handle semua sosmed.

“Gue kerja dari rumah. Biasanya mulai jam 9, selesai jam 1 siang. Udah. Sisanya gue bisa ngapa-ngapain.”

Gue kaget. “Cuma 4 jam? Terus kerjaan lo apa aja?”

“Bikin konten, jadwalin posting, bales komen dikit, laporan mingguan. Itu doang. Yang penting engagement target kejar. Kalau udah, ya udah. Nggak ada yang nyuruh gue nambah kerjaan.”

Gajinya? 16 juta sebulan. Belum bonus.

“Lo nggak pernah ngerasa pengen naik jabatan? Atau ambil tanggung jawab lebih?” gue tanya.

Dinda ketawa. “Buat apa? Kalau gue naik jabatan, gue bakal dapet lebih banyak kerjaan. Mungkin gaji naik dikit. Tapi jam kerja gue nambah. Stress gue nambah. Hitung-hitungannya nggak worth it. Mending gue kayak gini, santai, duit cukup, hidup gue jalan.”

Data point: Survei Karir Gen Z 2024 nyebutin 63% responden usia 20-26 lebih milih pekerjaan dengan work-life balance tinggi daripada pekerjaan dengan jenjang karir jelas tapi jam kerja panjang.


Kasus #2: Sarah (25, Virtual Assistant untuk 3 Perusahaan AS) — “Gue Punya 3 Bos, Tapi Semua Remote dan Santai”

Ini yang bikin gue makin heran.

Sarah kerja sebagai virtual assistant. Tapi bukan buat satu perusahaan—dia handle 3 klien sekaligus. Semua perusahaan kecil di Amerika.

“Total jam kerja gue sekitar 30 jam seminggu. Itu udah termasuk meeting. Gaji total? Sekitar 23 juta sebulan.”

Gue ngitung. 30 jam seminggu berarti rata-rata 6 jam sehari. Masih lebih dikit daripada kerja kantoran biasa.

“Lo nggak pusing handle 3 orang?”

“Nggak. Karena mereka semua ngerti gue bukan karyawan fulltime. Mereka nggak expect gue online 24/7. Yang penting kerjaan gue beres. Kalau gue lagi libur, ya mereka tunggu.”

Yang bikin gue mikir: Sarah ini bukan tipe orang yang males. Dia ambil 3 klien sekaligus. Tapi dia bikin batasan jelas.

“Lo nggak pengen punya satu pekerjaan tetap dengan jenjang karir jelas?”

“Jenjang karir di mana? Naik jadi apa? Jadi kepala virtual assistant? Nggak ada. Dan gue nggak butuh itu. Yang gue butuh: duit cukup, waktu buat diri sendiri, dan nggak ada yang nyuruh-nyuruh gue di luar jam kerja.”

Common mistake yang sering dilakuin Gen Z: Mikir kalau jadi VA itu “gampang” dan bisa asal ambil klien. Sarah cerita, dia punya sistem: kontrak jelas, jam kerja jelas, dan dia selalu over-deliver di jam kerjanya biar klien percaya. Jadi bukan lazy dalam arti males—tapi lazy dalam arti nggak mau kerja di luar batas wajar.


Kasus #3: Riri (23, Copywriter di Agensi) — “Gue Kerja 9-5 Banget, Abis Itu Ghosting”

Riri kerja di agensi digital. Lo tau lah, agensi tempatnya anak-anak kreatif yang katanya “kerja keras” tapi ujung-ujungnya lembur tiap hari.

Tapi Riri beda.

“Gue dari awal udah bilang ke HRD: gue nggak mau lembur. Kalau ada urgent, boleh chat. Tapi gue nggak janji bakal bales di luar jam kerja. Mereka awalnya kaget, tapi karena portfolio gue lumayan, mereka iyain.”

Sekarang Riri masuk jam 9, pulang jam 5. Abis itu? HP dimatiin. Notifikasi kerja dimute. Dia beneran ghosting sampe besok pagi.

“Rekan kerja lo nggak bete?”

“Mungkin ada yang bete. Tapi gue udah buktiin: di jam kerja, gue kerja maksimal. Hasil gue selalu on time. Jadi mereka nggak punya alasan buat komplain. Yang penting deliverable gue beres.”

Gajinya 14 juta. Cukup buat hidup di Jakarta, nabung dikit, dan masih bisa jalan-jalan akhir pekan.

“Lo nggak pengen jadi head of copywriter suatu hari?”

“Pengen sih. Tapi kalau jadi head itu berarti gue harus available 24/7, harus handle anak buah, harus meeting mulu. Itu nggak sebanding dengan kenaikan gaji yang nggak seberapa. Mending gue jadi specialist yang diandelin, tapi tetep punya hidup.”


Kasus #4: Mona (32, Manajer di Multinasional) — “Gue Dulu Ngatain Mereka Males, Sekarang… Gue Iri”

Nah ini yang bikin gue mikir paling dalam.

Mona—temen kampus gue dulu—sekarang jadi manajer di perusahaan multinasional. Gajinya 35 juta sebulan. Tapi jam kerjanya? Nggak jelas.

“Gue masuk kantor jam 8, pulang… yaa tergantung. Kadang jam 8 malem, kadang jam 10. Sabtu-Minggu masih ngecek email. Liburan? Bawa laptop. Ada meeting darurat, ya tinggalin keluarga.”

Mona punya anak 2. Dia sering ketinggalan momen-momen penting anaknya.

“Awalnya gue pikir ini pengorbanan sementara. Gue kumpulin duit, naik jabatan, nanti kalau udah tinggi bisa santai. Tapi ternyata makin tinggi, makin sibuk. Nggak ada ujungnya.”

Dia denger cerita tentang Dinda, Sarah, Riri. Reaksinya?

“Jujur, dulu gue mikir mereka itu generasi males. Kerja dikit, maunya gaji gede. Tapi sekarang… gue mulai ngerasa mereka yang bener. Mereka sadar diri lebih awal. Mereka nggak mau jadi budak korporat kayak gue.”

Gue diem. Mona lanjut:

“Lo tau nggak, gue kangen main sama anak gue. Tapi kalau gue berhenti kerja atau turun jabatan, cicilan rumah gimana? Biaya sekolah gimana? Mobil gimana? Gue udah terlanjur di sini, susah mundur.”

Statistik yang bikin miris: Menurut riset internal salah satu perusahaan konsultan, tingkat burnout di kalangan milenial (30-40 tahun) yang menjabat posisi manajer ke atas mencapai 71%. Tapi 8 dari 10 di antaranya merasa nggak bisa berhenti karena sudah terikat gaya hidup.


Jadi, Siapa yang Bener?

Nggak ada jawaban mudah.

Yang bikin gue merenung: jaman dulu, “sukses” itu diukur dari seberapa tinggi lo naik jabatan. Sekarang? Gen Z ngukur sukses dari seberapa banyak waktu luang yang lo punya.

Tapi ada satu insight penting dari Mona:

“Mereka yang milih lazy girl jobs itu bukan males. Mereka pintar milih perang. Mereka nggak mau buang energi buat sesuatu yang nggak berarti. Tapi masalahnya—mereka juga harus siap kalau suatu hari perusahaan nggak butuh mereka lagi. Karena mereka nggak punya ‘cadangan’ berupa jabatan atau jaringan kuat.”

Nah itu dia.

Lazy girl jobs itu enak—selama masih ada yang butuh. Tapi kalau tiba-tiba perusahaan PHK, atau AI bisa gantiin kerjaan lo? Apa yang lo punya selain keahlian teknis yang mungkin bisa diganti?

Gue tanya ini ke Dinda. Dia jawab santai:

“Gue sadar kok. Makanya gue pake waktu luang gue buat belajar hal lain. Sekarang lagi belajar data analytics. Siapa tau nanti bisa jadi data analyst yang juga kerja santai. Atau malah buka usaha sendiri. Intinya, gue nggak bergantung sama satu perusahaan. Mereka pecat gue? Ya gue cari klien lain.”

Nah, itu bedanya dengan mindset “kerja keras naik jabatan”. Yang kerja keras biasanya terlalu sibuk buat mikirin alternatif. Mereka terjebak di satu jalur, naik terus, tapi nggak punya jalan keluar.


Common Mistakes: Yang Sering Salah Paham Soal Lazy Girl Jobs

Dari obrolan gue sama mereka, plus baca-baca komen di TikTok, ini beberapa kesalahan yang sering muncul:

1. Mikir “lazy” itu artinya males beneran
Nggak. Lazy girl jobs itu tentang efisiensi, bukan kemalasan. Mereka yang sukses di jalur ini justru kerja keras DI JAM KERJA, tapi nggak bawa kerjaan ke luar jam kerja. Bedanya tipis tapi penting.

2. Mikir semua kerjaan bisa jadi “lazy”
Nggak semua bidang bisa. Pekerjaan yang hasilnya terukur (bikin konten, nulis, desain, data entry) lebih gampang. Pekerjaan yang butuh kolaborasi terus (manajer proyek, event organizer, sales) lebih susah.

3. Lupa investasi jangka panjang
Ini kritik paling valid buat lazy girl jobs: kalau lo nggak naik jabatan, lo nggak punya posisi yang “aman”. Lo cuma jadi tukang yang digaji sesuai output. Kalau output lo bisa diganti AI, lo bisa kapan aja diganti.

4. Terlalu percaya diri sama stabilitas
“Gue udah 2 tahun di sini, aman-aman aja.” Ya selama ekonomi bagus. Tapi kalau resesi? Yang di-PHK pertama biasanya yang “mudah diganti”—termasuk para pelaku lazy girl jobs.


Practical Tips: Gimana Cara Dapetin Lazy Girl Jobs (Tanpa Jadi Korban)

Buat lo yang sekarang lagi mikir: “Gue juga pengen dong kerja santai gaji 15 juta”, ini tips dari mereka yang udah jalan:

1. Bangun portfolio yang kuat, bukan CV yang panjang
Perusahaan yang nawarin lazy girl jobs biasanya nggak peduli lo lulusan mana atau pernah kerja di mana. Mereka peduli: lo bisa apa? Tunjukin hasil kerja lo. Bikin website portfolio. Kumpulin testimoni.

2. Kuasai skill yang “hasilnya terukur”
Social media management (engagement naik), copywriting (konversi naik), desain (estetik dan sesuai brief), data entry (cepat dan akurat). Skill-skill kayak gini gampang dijual sebagai “project-based” bukan “time-based”.

3. Belajar negosiasi batasan sejak awal
Riri dari awal udah bilang nggak mau lembur. Sarah bikin kontrak jelas. Dinda dari awal kerjanya remote dan hasil-oriented. Kuncinya: tetapkan batasan SEBELUM lo tanda tangan kontrak, bukan pas udah jalan.

4. Siapin “jalan keluar”
Ini yang paling penting. Karena lo nggak naik jabatan, lo harus punya rencana cadangan. Bisa berupa:

  • Side hustle yang bisa jadi main hustle kapan aja
  • Tabungan darurat minimal 6 bulan
  • Jaringan klien yang bisa dihire langsung
  • Skill baru yang terus di-upgrade

5. Jangan toxic positivity
“Yang penting happy!” Iya, happy itu penting. Tapi jangan sampe lo ignore red flags: perusahaan yang nggak stabil, industri yang lagi sekarat, atau skill lo yang udah ketinggalan jaman. Lazy girl jobs bukan alasan buat berhenti belajar.


Kesimpulan: Lazy Girl Jobs Itu Bukan Gaya Hidup, Tapi Strategi

Balik ke pertanyaan awal: siapa yang bener?

Menurut gue, nggak ada yang sepenuhnya bener atau salah.

Yang milih lazy girl jobs punya poin: hidup itu bukan cuma kerja. Waktu, kesehatan mental, dan kebebasan itu nggak ternilai. Mereka nggak mau jadi budak korporat yang di akhir hayatnya cuma punya kenangan lembur.

Yang milih kerja keras juga punya poin: keamanan finansial jangka panjang, jaringan kuat, dan posisi yang nggak gampang diganti. Mereka rela berkorban sekarang buat hasil nanti.

Tapi yang paling bener: lo harus tau diri lo sendiri.

Mona mungkin akan terus kerja keras karena cicilan rumahnya 20 tahun lagi. Dinda mungkin akan terus santai karena dia punya tabungan dan skill yang fleksibel. Keduanya bener—buat diri mereka masing-masing.

Yang penting: jangan terjebak di jalan yang nggak lo pilih.

Jangan kerja keras tapi lo benci pekerjaan lo. Jangan pilih lazy girl jobs tapi lo gelisah tiap malem mikirin masa depan.

Pilih yang bikin lo bisa tidur nyenyak. Karena pada akhirnya, hidup itu panjang. Dan lo yang jalanin, bukan TikTok, bukan LinkedIn, bukan artikel ini.


*Lo tim mana? Tim kerja santai gaji 15 juta, atau tim kerja keras naik jabatan? Atau kayak gue—masih bingung dan lagi nyoba nyari jalan tengah? Tulis di komen, gue baca satu-satu!*