Gue punya temen, sebut aja Dita. Setiap kali buka Instagram, dia selalu muncul dengan outfit baru. Kadang branded, kadang vintage, kadang desainer. Nggak pernah ngulang. Komentarnya selalu: “Keren banget sih outfitnya!” “Baru beli di mana?” “Mahal nggak?”
Dita selalu jawab diplomatis. Atau kadang diem.
Suatu hari, gue ketemu dia di kafe. Dia pake baju yang pernah gue liat di fotonya sebulan lalu. Gue tanya, “Eh, itu baju yang waktu itu? Kok dipake lagi?”
Dia senyum. “Bukan. Itu baju sewaan. Sekarang gue pake baju sendiri.”
Gue kaget. “Maksudnya?”
“Aku sering nyewa baju buat foto. Biar feed Instagram keliatan variatif. Nggak perlu beli mahal-mahal, cukup sewa. Namanya rentgen.”
Gue bengong. Selama ini gue kagum sama koleksi baju dia, ternyata… sewaan.
Tapi setelah dipikir-pikir, ini sebenarnya cerdas juga. Di 2026, ekonomi lagi nggak baik-baik amat. Harga barang naik, tapi tuntutan tampil “keren” di medsos tetap tinggi. Rentgen jadi jalan tengah.
Tapi pertanyaannya: ini solusi hemat atau gaya hidup palsu?
Apa Itu Rentgen?
Rentgen adalah kependekan dari rental baju. Layanan di mana orang bisa menyewa pakaian untuk jangka waktu tertentu—biasanya 1-7 hari—dengan harga jauh lebih murah daripada membeli.
Bentuknya macam-macam:
- Sewa harian: buat acara tertentu (wisuda, kondangan, interview)
- Sewa mingguan: buat konten atau liburan
- Sewa bulanan: buat yang pengen ganti-ganti outfit tiap minggu
- Sewa dengan sistem subscribe: bayar bulanan, bisa ganti baju beberapa kali
Produknya juga variatif:
- Baju branded (Gucci, Dior, Balenciaga)
- Baju vintage dan thrift
- Baju desainer lokal
- Aksesoris, tas, sepatu
- Bahkan ada yang nyewain jam tangan mewah
Di 2026, industri ini berkembang pesat. Data dari Asosiasi Penyewaan Fashion Indonesia (fiksi) nunjukkin:
- Pertumbuhan bisnis rentgen: 340% dalam 3 tahun terakhir
- Jumlah penyewa aktif: 2,5 juta orang (mayoritas usia 20-30 tahun)
- Rata-rata pengeluaran sewa per bulan: Rp 300-800 ribu
- Produk paling laris: dress kondangan (42%), tas branded (38%), outfit foto (35%)
Ini bukan tren kecil. Ini pergeseran cara pandang terhadap fashion.
Studi Kasus: Tiga Pengguna Rentgen
Gue ngobrol sama beberapa pengguna setia rentgen.
Dita (28), content creator, Jakarta
“Aku jujur aja: feed Instagramku isinya baju sewaan. Kenapa? Karena aku nggak mampu beli baju baru tiap minggu. Tapi untuk kerjaan, aku harus keliatan up-to-date. Solusinya: sewa. Aku bayar 500 ribu per bulan buat subscribe di salah satu aplikasi rentgen. Bisa ganti baju 4 kali sebulan. Lebih hemat daripada beli.”
Raka (26), pekerja kantoran, Bandung
“Aku sering kondangan. Dulu beli baju baru tiap kali. Sekarang nyewa. Lebih murah, lebih variatif, dan nggak perlu pusing nyimpen baju yang cuma dipake sekali. Yang penting bersih dan rapi. Temen-temen pada nggak tahu, mereka kira aku beli.”
Sasa (24), mahasiswa, Jogja
“Aku suka banget sama fashion, tapi uang pas-pasan. Rentgen jadi jalan keluar. Aku bisa pake baju branded dengan harga terjangkau. Kadang buat foto di kampus, kadang buat dinner sama pacar. Nggak ada yang nanya, yang penting keliatan oke.”
Tiga orang, tiga alasan. Tapi semuanya setuju: rentgen itu solusi di tengah ekonomi yang nggak pasti.
Argumen Pro: Solusi Hemat dan Cerdas
Pendukung rentgen punya argumen kuat:
1. Hemat Biaya
Beli baju branded bisa jutaan. Sewa cuma 100-300 ribu. Untuk acara sekali pakai, ini jauh lebih ekonomis.
2. Variasi Tanpa Boros
Dengan budget yang sama, lo bisa pake 10 baju berbeda daripada beli 1 baju. Lebih variatif, lebih seru.
3. Ramah Lingkungan
Fast fashion adalah salah satu penyumbang polusi terbesar. Dengan menyewa, lo ikut mengurangi produksi baju baru dan limbah tekstil.
4. Solusi buat yang Suka Ganti Gaya
Selera fashion bisa berubah cepat. Nyewa bikin lo bisa ikut tren tanpa harus menyesal beli baju yang cuma tren sesaat.
5. Akses ke Merek Mahal
Nggak semua orang bisa beli Gucci atau Dior. Tapi dengan nyewa, semua orang bisa ngerasain pake merek mewah.
Dita, yang tadi, bilang: “Buat aku, rentgen itu bentuk kecerdasan finansial. Kenapa harus beli mahal kalau bisa sewa murah? Yang penting aku tampil oke, bukan siapa yang punya baju.”
Argumen Kontra: Gaya Hidup Palsu
Tapi lawannya juga nggak kalah sengit:
1. Menciptakan Ilusi
Or jadi kelihatan lebih kaya dari yang sebenarnya. Ini menciptakan standar hidup palsu yang bikin orang lain insecure.
2. Tekanan Sosial
Semakin banyak yang pake rentgen, semakin besar tekanan buat ikut-ikutan. “Orang lain bisa ganti baju tiap hari, kok gue nggak?” Padahal itu ilusi.
3. Kehilangan Identitas
Fashion seharusnya ekspresi diri. Kalau semua baju cuma pinjaman, apa itu masih jadi identitas lo?
4. Risiko Kerusakan dan Denda
Nyewa ada risikonya. Baju rusak, kena noda, telat balikin—bisa kena denda yang nggak murah.
5. Kualitas Kebersihan
Baju bekas dipake orang lain, meskipun udah di-laundry, tetep ada risiko higienis. Nggak semua orang nyaman.
Pak Dodi (50), pengamat fashion:
“Ini generasi yang terjebak dalam ilusi. Mereka ingin terlihat sebagai sesuatu yang bukan mereka. Rentgen memfasilitasi itu. Saya khawatir, ini bikin orang lupa bahwa yang terpenting bukan penampilan, tapi karakter.”
Data: Motif di Balik Rentgen
Survei kecil-kecilan di kalangan pengguna rentgen (responden 500 orang) nemuin angka menarik:
- 68% menyewa untuk acara spesial (kondangan, wisuda, interview)
- 52% menyewa untuk konten media sosial
- 45% menyewa karena ingin variasi tanpa beli
- 38% menyewa untuk mencoba gaya baru
- 32% menyewa karena tidak mampu beli asli
- 28% menyewa karena alasan lingkungan
Yang menarik: mayoritas menyewa untuk acara spesial dan konten medsos. Ini menunjukkan bahwa rentgen memang terkait erat dengan “tampil” di depan orang lain.
Tapi hanya 32% yang mengaku tidak mampu beli asli. Artinya, sebagian besar penyewa sebenarnya mampu beli, tapi memilih sewa karena lebih praktis dan variatif.
Perspektif Psikologis: Antara Kebutuhan dan Gengsi
Gue ngobrol sama psikolog, Bu Rini (52).
“Fenomena rentgen ini menarik. Dia ada di persimpangan antara kebutuhan, keinginan, dan gengsi. Di satu sisi, ini solusi cerdas buat yang butuh variasi dengan budget terbatas. Di sisi lain, ini bisa jadi jebakan buat mereka yang terlalu fokus pada pencitraan.”
Apa yang sehat dan tidak sehat?
“Sehat kalau lo sadar ini alat, bukan identitas. Lo sewa baju buat acara tertentu, lalu lo kembalikan, dan lo nggak merasa harus terus-menerus tampil ‘mewah’. Nggak sehat kalau lo jadi ketergantungan, merasa ‘kurang’ kalau nggak pake baju sewaan, atau sampai berutang buat sewa.”
Apa pesan buat pengguna rentgen?
“Sadar aja: ini cuma baju. Bukan lo. Nilai lo nggak ditentukan oleh merek yang lo pake. Kalau lo bisa nikmatin rentgen tanpa beban, silakan. Tapi kalau lo stres mikirin ‘apa kata orang’, mungkin perlu evaluasi.”
Studi Kasus: Penyedia Jasa Rentgen
Gue juga ngobrol sama pemilik bisnis rentgen. Sebut aja Maya (30), punya usaha rentgen di Jakarta.
“Aku mulai bisnis ini 3 tahun lalu. Awalnya cuma iseng, jualan baju bekas. Tapi liat tren, akhirnya beralih ke sewa. Sekarang aku punya 500+ item, dari baju branded sampai vintage. Omzet? Rata-rata 50-80 juta per bulan.”
Siapa pelanggannya?
“Mayoritas 20-30 tahun. Anak kuliah, pekerja kantoran, content creator. Mereka sewa buat kondangan, foto konten, atau sekadar ganti-ganti outfit. Ada juga yang sewa buat interview kerja, biar keliatan profesional.”
Apa tantangannya?
“Paling susah ya perawatan. Baju harus dicuci profesional, diperiksa tiap habis dipake. Kalau ada yang rusak atau hilang, kita kenakan denda. Tapi untungnya, sebagian besar pelanggan bertanggung jawab.”
Pandangannya soal kontroversi “gaya hidup palsu”?
“Terserah orang mau bilang apa. Yang jelas, kami menyediakan solusi. Mau dipake buat apa, urusan mereka. Yang penting kami jaga kualitas dan pelayanan.”
Yang Bikin Miris: Rentgen Buat Konten Palsu
Sisi gelap rentgen adalah penggunaannya untuk menciptakan ilusi di media sosial.
Ada orang yang nyewa baju, foto di tempat aesthetic, lalu posting dengan caption seolah-olah itu gaya hidup sehari-hari. Mereka menciptakan persona “kaya” padahal nyatanya biasa aja.
Ini berbahaya karena:
- Menciptakan standar hidup yang nggak realistis
- Membuat orang lain insecure
- Membuat pelakunya sendiri tertekan buat terus mempertahankan ilusi
- Menghilangkan keaslian dalam bermedia sosial
Tapi, siapa yang salah? Penyedia jasa? Pengguna? Atau sistem media sosial yang memuja kemewahan?
Mungkin semua punya andil.
Tips: Menyewa dengan Cerdas dan Sehat
Buat yang tertarik nyewa, ini tipsnya:
1. Tentukan kebutuhan.
Sewa buat acara spesifik, bukan buat gaya hidup. Kalau lo butuh baju kondangan, sewa. Kalau lo cuma pengen foto doang, pikir ulang.
2. Pilih penyewa terpercaya.
Cek review, cek kualitas baju, cek kebijakan pengembalian. Jangan asal murah.
3. Baca syarat dan ketentuan.
Perhatikan soal denda, perawatan, dan waktu pengembalian. Jangan sampai kena biaya tambahan.
4. Jaga baju dengan baik.
Anggap seperti punya sendiri. Hindari noda, robek, atau kerusakan. Kalau perlu, jangan makan/minum waktu pake.
5. Kembalikan tepat waktu.
Telat balikin bisa kena denda. Set alarm.
6. Jangan jadikan identitas.
Ingat, ini cuma baju pinjaman. Bukan lo. Jangan sampai lo merasa “berbeda” karena pake baju sewaan.
7. Jujur kalau ditanya.
Nggak perlu malu ngaku nyewa. Lebih baik jujur daripada membangun ilusi palsu.
Common Mistakes: Jangan Lakuin Ini
1. Nyewa di luar kemampuan.
Ada yang nekat sewa baju mahal padahal uang pas-pasan. Akhirnya boncos dan stres.
2. Lupa waktu pengembalian.
Udah asik pake, lupa waktu, kena denda. Nyesel.
3. Ngerusak baju dan kabur.
Ini tindakan kriminal. Jangan.
4. Pamer di medsos seolah-olah punya sendiri.
Nggak salah sih, tapi inget konsekuensinya. Suatu saat bisa ketahuan.
5. Ngeremehin yang nyewa.
“Ah, nyewa doang.” Padahal itu pilihan cerdas. Jangan judge.
6. Jadi ketergantungan.
Merasa nggak pede kalau pake baju sendiri. Ini tanda bahaya.
Masa Depan: Akan ke Mana Tren Rentgen?
Beberapa kemungkinan:
Skenario 1: Rentgen jadi norma baru.
Seperti Netflix dan Spotify, orang akan lebih milih “langganan” daripada “beli”. Fashion jadi layanan, bukan barang.
Skenario 2: Boomerang ke kepemilikan.
Orang bosan dengan “pinjaman” dan kembali ke kepemilikan. Tapi mungkin ini minoritas.
Skenario 3: Integrasi dengan teknologi.
Aplikasi rentgen makin canggih. Bisa virtual fitting room, rekomendasi AI, dan pengiriman cepat. Sewa makin mudah.
Skenario 4: Gerakan anti-rentgen.
Muncul kritik bahwa ini “gaya hidup palsu”. Tapi kayaknya nggak akan besar.
Yang paling mungkin: rentgen akan terus tumbuh, jadi bagian dari gaya hidup urban. Dan orang akan makin terbiasa dengan konsep “pakai, bukan punya”.
Yang Gue Rasakan
Gue akui, awalnya gue judge. “Ah, nyewa baju buat konten, palsu banget.”
Tapi setelah ngobrol sama Dita dan beberapa orang lain, gue mulai paham. Ini bukan soal palsu atau nggak. Ini soal bertahan di tengah tekanan.
Tekanan untuk tampil oke di medsos. Tekanan untuk ikut tren. Tekanan untuk “layak” di mata orang lain. Sementara di sisi lain, ekonomi nggak mendukung.
Rentgen jadi jalan tengah. Lo bisa tampil oke tanpa harus bangkrut. Lo bisa ikut tren tanpa harus menyesal. Lo bisa eksis di medsos tanpa harus berutang.
Apakah ini ideal? Mungkin nggak. Tapi ini realistis.
Gue sendiri? Mungkin akan coba rentgen suatu hari. Bukan buat konten, tapi buat acara spesifik. Kondangan, misalnya. Daripada beli baju mahal yang cuma dipake sekali, mending sewa.
Tapi gue juga akan tetap pake baju sendiri. Karena itu yang paling nyaman. Dan itu yang paling jujur.
Kesimpulan: Antara Solusi dan Ilusi
Fenomena rentgen di 2026 adalah cermin dari generasi yang hidup di tengah tekanan: tekanan ekonomi, tekanan sosial, tekanan media sosial.
Dia adalah solusi cerdas buat yang pintar mengatur keuangan. Dia juga bisa jadi ilusi buat yang terjebak dalam pencitraan.
Tapi pada akhirnya, yang menentukan bukan baju yang dipake, tapi siapa yang pake. Baju sewaan atau baju sendiri, kalau lo percaya diri, lo akan tetap keren.
Yang penting: jangan sampai lo kehilangan diri sendiri di tengah semua ini. Jangan sampai lo merasa “kurang” hanya karena nggak pake baju branded. Jangan sampai lo berutang hanya buat tampil mewah di medsos.
Karena pada akhirnya, yang paling berharga bukan apa yang lo pake, tapi siapa lo sebenarnya.
Gue sendiri? Akan tetap pake baju sendiri. Tapi kalau ada acara penting, nggak ada salahnya nyewa. Yang penting, gue tahu diri.
Dan gue nggak akan malu ngaku kalau ditanya. Karena kejujuran itu lebih mahal dari baju termahal sekalipun.