Lo tahu nggak rasanya: kamar kost lo bocor. Air ngerembes dari plafon. Tembok ngelupas. Lantai becek.
Tapi lo pasang string lights di atas kasur. Gorden sheer warna krem. Naro fake plant di meja belajar. Fotoin. Upload ke Instagram. Caption: “Home is where the heart is. 🕯️”
Gue juga pernah.
Namanya poverty aesthetic. Tren dekorasi kamar kost murah meriah yang lagi viral di kalangan anak muda (18-28 tahun). Idenya: buat kamar yang keliatan aesthetic meskipun fasilitasnya jelek.
Gorden $2 dari Shopee. Lampu tumblr 30 ribuan. Karpet bulu-bulu murahan. Rak dinding dari kardus bekas.
Hasilnya? Kamar lo keliatan kayak mood board Pinterest. Tapi atap masih bocor. Air masih banjir kalau hujan. Dan lo masih diem aja.
Poverty aesthetic bukan solusi. Ini plester manis untuk luka yang seharusnya diobati dengan protes ke pemilik kost.
Gue breakdown kenapa tren ini bermasalah—meskipun hasil fotonya bagus.
Angka yang Bikin Lo Merapat (Sebelum Lo Beli Lampu Tumblr Lagi)
Sebuah survei dari KostKita Indonesia (2025) terhadap 3.000 anak kost usia 18-28 tahun:
- 84% mengaku pernah mendekorasi kamar kost meskipun dengan fasilitas seadanya.
- 67% menghabiskan *Rp 200.000 – Rp 500.000* untuk dekorasi (lampu, gorden, karpet, dll).
- Tapi 72% dari mereka nggak pernah komplain soal kerusakan kamar (bocor, banjir, listrik mati) ke pemilik kost. Alasan: “Males ribut” atau “Takut diusir”.
Irisannya ngeri. Lo rela belanja 500 ribu buat bikin kamar keliatan bagus. Tapi nggak berani ngomong ke pemilik kost soal atap bocor yang harusnya ditanggung pemilik.
Prioritasnya kebalik.
Dan itu masalah.
Kasus #1: Dinda, 22 tahun (Jogja) – Kamar estetik TikTok, tapi tiap hujan kebanjiran
Dinda punya akun TikTok dengan 30 ribu followers. Kontennya: dekorasi kamar kost murah. Video-videonya viral. Banyak yang komen “estetik banget”, “inspirasi buat aku”.
Tapi yang nggak keliatan di video: kamar Dinda tiap hujan selalu kebanjiran. Air masuk dari celah pintu. Karpet bulu-bulunya basah. Buku-bukunya ngembung.
“Gue pernah komplain ke pemilik kost. Dijawab: ‘Nanti saya perbaiki.’ Tiga bulan nggak ada kabar.”
Dinda milih diem daripada berisik. Dia alihkan perhatian dengan dekorasi.
“Gue pikir, kalau kamar gue keliatan bagus di foto, gue nggak bakal fokus sama bocornya. Tapi tetep aja gue kedinginan pas hujan. “
Dinda sekarang mulai berani komplain. Setelah 1 tahun ngalemin banjir.
“Gue nyesel nggak dari awal. Gue habis duit 400 ribu buat dekorasi, tapi nggak berani ngeluarin 10 ribu buat nelpon pemilik kost.”
Prioritas, Dinda. Prioritas.
Kasus #2: Raka, 24 tahun (Jakarta) – Ngekos di kontrakan becek, tapi bangga karena “aesthetic”
Raka kerja sebagai copywriter lepas. Penghasilannya pas-pasan. Dia milih kost murah (Rp 700 ribu/bulan) di daerah yang sering banjir.
“Gue tahu konsekuensinya. Tapi gue pikir ‘yang penting kamar gue keliatan keren’ .”
Raka habiskan 600 ribu buat beli lampu hias, gorden, karpet, dan wallpaper murahan. Hasilnya? Kamarnya keliatan kayak kafe hipster.
Tapi setiap hujan, air masuk. Lantai becek. Karpetnya ngambang.
“Gue pernah post foto kamar aesthetic di Instagram. Dua jam kemudian, hujan. Kamar gue banjir. Ironis banget. “
Raka sekarang pindah kost. Ke tempat yang nggak banjir. Tapi lebih mahal (Rp 1,2 juta/bulan). Dan dia nggak dekorasi apa-apa.
“Sekarang kamar gue kosong. Cuma kasur dan meja. Tapi nggak banjir. Itu lebih estetik buat gue daripada lampu tumblr.”
*Perspektif berubah setelah 2 tahun basah-basahan.*
Kasus #3: Maya & temen kost (Bandung) – Dari dekorasi bareng jadi protes bareng ke pemilik kontrakan
Maya dan 3 temannya tinggal di kontrakan tahunan. Awalnya mereka rame-rame dekorasi kamar. Beli lampu, karpet, dan wall art murahan. Kamar mereka keliatan kayak co-living aesthetic.
Tapi 2 bulan kemudian, atap bocor di 2 kamar. Air ngerembes ke tembok. Cat ngelupas.
“Mereka pada komplain sendiri-sendiri ke pemilik kontrakan. Nggak digubris.”
Maya menginisiasi: mereka kumpul. Bikin surat protes bersama. Tanda tangan 4 orang. Kirim ke pemilik kontrakan via WhatsApp plus foto kerusakan.
“Kita bilang: ‘Pak, ini kondisi kontrakan. Ini hak kita sebagai penyewa. Kalau nggak diperbaiki, kita akan cari tempat lain dan kasih tahu calon penyewa berikutnya.’ “
Pemilik kontrakan langsung gerak. Atap dibenerin dalam 3 hari.
“Sekarang kamar kita masih ada lampu tumblr. Tapi nggak bocor. Rasanya lega banget.”
Dekorasi itu pelengkap. Protes itu kebutuhan.
Poverty Aesthetic: Dari Tren Jadi Guilt Trip
Awalnya, poverty aesthetic muncul sebagai bentuk kreativitas anak muda yang nggak punya duit tapi tetep pengen hidup nyaman.
Caranya: manfaatin barang murah. Bikin kamar kost keliatan mahal padahal nggak.
Tapi tren ini bergeser.
Sekarang, poverty aesthetic sering dipake buat menutupi masalah struktural. Kamar bocor? Tutup dengan gorden cantik. Lantai becek? Tutup dengan karpet murah. Atap mau rubuh? Alihkan perhatian dengan lampu tumblr.
Kita jadi bisa bertahan di kondisi yang seharusnya nggak layak.
Dan di situlah guilt trip-nya.
Lo jadi merasa cukup padahal nggak cukup. Lo jadi merasa bangga padahal harusnya protes. Lo jadi menerima standar rendah karena lo bisa membungkusnya dengan estetik.
Itu berbahaya.
Atau kata Maya: *”Dekorasi tuh bikin kita lupa bahwa kita berhak dapat tempat yang layak. Bukan cuma t tempat yang keliatan layak di foto. “
Common Mistakes Anak Kost Soal Poverty Aesthetic
Banyak yang terjebak tren ini tanpa sadar merugikan diri sendiri. Jangan lakuin ini:
1. Beli dekorasi sebelum pastiin kamarnya layak huni
Lo beli karpet 100 ribu. Tapi lantai becek. Karpet lo cepat rusak. Solusi: prioritasin perbaikan dulu. Komplain ke pemilik kost. Pastiin bocor, banjir, dan listrik beres. Baru dekorasi.
2. Takut komplain karena takut dianggap ribut
Lo pikir kalau lo komplain, pemilik kost bakal ngusir lo. Padahal itu hak lo sebagai penyewa. Solusi: komplain dengan sopan tapi tegas. Kirim foto kerusakan. Simpan bukti chat. Kalau nggak digubris, ajak tetangga kost lain buat protes bareng.
3. Menghabiskan ratusan ribu buat dekorasi sementara
Lo tau bakal pindah kost 6 bulan lagi. Tapi lo beli rak dinding, karpet, lampu yang susah dipindah. Solusi: beli dekorasi yang portable dan bisa dipake ulang. Lampu tumblr? Bisa. Karpet bulu? Bisa. Wallpaper? Jangan. Rak tempel? Jangan.
4. Over-posting di medsos sampai lupa realita
Lo post foto kamar estetik. Orang komen “keren”. Lo bangga. Tapi di dunia nyata, kamar lo nggak nyaman. Solusi: posting secukupnya. Jangan sampe lo lebih peduli sama tampilan daripada fungsi.
5. Membandingkan kost lo sama konten aesthetic di TikTok
Konten di TikTok itu highlight reel, bukan realita. Mereka nggak nunjukkin tempek bocor, lemari miring, atau kamarnya yang sesak. Solusi: inget, setiap kost punya masalah. Fokus ke mengatasi masalah lo, bukan meniru tampilan orang lain.
Poverty Aesthetic vs Realita: Mana yang Lebih Penting?
Gue buat tabel biar lo sadar:
| Aspek | Poverty Aesthetic | Realita Seharusnya |
|---|---|---|
| Atap bocor | Ditutup lampu tumblr, difoto dari angle yang nggak keliatan | Harusnya lo komplain ke pemilik kost |
| Lantai becek | Ditutup karpet murah, difoto pas lagi kering | Harusnya minta perbaikan drainase |
| Listrik mati | Foto pake lilin biar “romantis” | Harusnya komplain ke PLN atau pemilik kost |
| Tembok ngelupas | Ditutup poster atau wallpaper | Harusnya minta di-cat ulang |
| Kamar sempit | Dipoto pake lensa wide-angle biar keliatan luas | Harusnya cari kost yang lebih layak (kalau budget memungkinkan) |
Poverty aesthetic itu kreatif. Tapi bukan solusi.
Jangan sampe lo merasa cukup dengan plester manis, sementara lukanya makin parah.
Practical Tips: Dekorasi Kost Tanpa Mengabaikan Masalah
Lo tetap bisa bikin kamar kost enak dilihat. Tapi jangan sampe itu jadi alasan buat diem aja:
Tip #1: Protes dulu, dekorasi belakangan
- Sebelum beli lampu atau karpet, pastiin kamar lo layak: atap nggak bocor, listrik jalan, air lancar.
- Kalau ada masalah, komplain. Catat tanggal dan bukti.
- Jangan bayar kost bulan depan kalau masalah nggak diperbaiki (tapi baca kontrak dulu).
Tip #2: Beli dekorasi fungsional, bukan cuma hiasan
- Beli rak sepatu (bisa buat simpan barang, sekaligus estetik).
- Beli lampu belajar (bukan cuma lampu tumblr).
- Beli karpet anti-air (kalau kamar lo rawan becek).
- Prioritasin fungsi, estetik belakangan.
Tip #3: Gunakan barang bekas yang gratis atau murah
- Kardus bekas jadi rak dinding (gratis).
- Botol kaca bekas jadi vas bunga (gratis).
- Kain perca jadi gorden (5-10 ribu).
- Kreatif dengan barang yang udah ada, jangan beli baru.
Tip #4: Rekam kondisi kamar sebelum dekorasi
- Foto bukti atap bocor, lantai becek, tembok ngelupas.
- Simpan buat jaga-jaga kalau nanti sengketa sama pemilik kost.
- Jangan cuma foto angle aesthetic.
Tip #5: Bersuara di media sosial (bukan cuma pamer estetik)
- Posting foto kamar lo yang estetik. Tapi sertakan juga foto masalahnya.
- Caption: “Estetik boleh. Tapi pemilik kost harus bertanggung jawab. Ini atap bocor udah 3 bulan.”
- Pressure publik bisa bikin pemilik kost gerak. (Tapi siap-siap kalau dia marah. Kadang risikonya ada.)
Dari Aesthetic ke Action: Kisah Mereka yang Bersuara
Gue nanya ke Maya (kasus #3): “Apa pesan lo buat anak kost yang lagi heboh dekorasi?”
Maya jawab: *”Dekorasi tuh pelarian. Gue ngerti. Gue juga suka bikin kamar keliatan bagus. Tapi jangan lupa: lo berhak dapat tempat yang layak. Kost murah bukan berarti kost kumuh. “
“Kalau lo nggak komplain, siapa lagi? Pemilik kost nggak bakal inisiatif benerin sendiri. Mereka nunggu lo ngomong. Jadi ngomonglah. Jangan cuma pasang lampu tumblr dan diem.”
Dinda (kasus #1) sekarang udah pindah kost. Dia rajin komplain. Dan dia ngajarin temen-temennya buat berani.
“Gue bilang: ‘Lu bayar, lu punya hak. Jangan takut diusir. Kost di kota ini banyak. Cari yang lebih baik.’ “
Raka (kasus #2) sekarang punya rule: “Sebelum sewa, gue cek semua. Atap. Lantai. Kran. Listrik. Kalau ada masalah, gue nego dari awal. Jangan sampe gue bayar mahal buat dekorasi sementara.”
Guilt Trip Terbesar: Kita Jadi Terbiasa dengan Ketidaklayakan
Gue mau jujur.
Tren poverty aesthetic ini bukan salah lo sebagai anak kost. Lo cuma berusaha bertahan dengan cara kreatif.
Tapi efek sampingnya: lo jadi terbiasa dengan standar rendah. Lo jadi menerima atap bocor, lantai becek, kamar sempit. Karena lo bisa membungkusnya dengan estetik.
Itu berbahaya.
Karena di luar sana, ada kost yang layak. Dengan harga yang sama. Tapi lo nggak cari karena lo udah nyaman dengan plester manis lo.
Jangan biarkan lampu tumblr membuat lo lupa bahwa lo berhak dapat atap yang nggak bocor.
Dekorasi itu pelengkap. Bukan pengganti.
Jadi… Lo Mau Tetap Estetik atau Mulai Bersuara?
Lo lagi baca artikel ini. Mungkin sambil duduk di kamar kost yang atapnya bocor. Tapi lampu tumblr lo nyala. Estetik.
Gue nggak nyuruh lo buang semua dekorasi lo. Tapi gue tantang lo buat prioritasin:
Besok pagi, komplain ke pemilik kost. Foto atap bocor. Kirim chat. Minta perbaiki.
Jangan cuma pasang story aesthetic.
Setelah lo komplain, baru lo boleh beli lampu tumblr baru. Sebagai hadiah karena lo berani bersuara.
Fair, kan?
Sekarang gue mau tanya: kost lo bocor nggak? Udah lo komplain? Atau lo tutup pake gorden cantik dan diem aja?
Jawab jujur. Nggak ada yang judge. Kita semua pernah di posisi itu.
Tapi sekarang waktunya berubah.